Monday, 16 May 2011

Diri sendiri

Bersabarlah terhadap semua hal, tetapi yang utama adalah bersabar terhadap diri anda sendiri.
Janganlah menjadi kecil hati pada saat memikirkan ketidaksempurnaan anda, tetapi segeralah ambil tindakan untuk mengatasinya

Tuesday, 3 May 2011

Hilang

Malam ini sama seperti malam lainnya
Semua tertidur
Semua menikmati indahnya mimpi
Semua merasakan nikmatnya pulau bawah sadar
Kecuali aku

Menatap layar persegi penuh warna
Sendiri terjaga
Berkawan dengan dengungan suara sang empunya malam yang berkeliaran
Bertepuk tangan menyapa

Menunggu dalam satu ruang kosong
Sapaan keramahan
Kecupan manis
Pelukan hangat
Genggaman meyakinkan
Semua terasa jauh
Hampa

Tak terperikan rasanya
Hati ini digenggam lalu dihempaskan
Hati ini dicuri lalu dibuang
Diri ini merasakan namun tak memiliki
Diri ini merasakan namun tak mampu mengatakan

Jawaban penantian
Dihancurkan cita-cita
Cinta itu hilang
Cinta itu sirna
Dilindungi benci

Ah.
Malam ini sungguh sunyi
Hanya sang layar yang berseru kepadaku
Inilah pilihan kebahagiannya











Sunday, 3 April 2011

Harapan

seseorang bertanya kepada temannya
"Siapakah yang lebih sering menyakiti kita? orang yang kita benci atau orang yang kita cintai?"

Temannya kemudian menjawabnya
"Yang kita cintai"

Orang itu mengernyitkan keningnya dan bertanya
"Kenapa justru yang kita cintai yang justru sering menyakiti kita? Bukankah orang yang kita benci selalu melakukan hal yang menyakiti kita?"

Jawab temannya
"Karena kita memiliki harapan dari orang yang kita cintai, dan dia tidak tahu tentang harapan tersebut"

Menari

menari-nari kita trus menari meski hujan rintik turun
mengalun- alun bersama alunan angin malam berpelukan
denganmu berbagi senyuman,
denganmu

melayang-layang kita trus melayang meski langit tanpa bintang
mendayu-dayu suara daun yang berjatuhan bermesraan
denganmu mengisi lamunan,
denganmu

lihat kita bertaburan bunga-bunga
kupu-kupu saling menyapa mengejar kita
terbang bersama ke sana,
menari-nari asmara

berjalan-jalan memecah genangan jejak air rintik hujan
bergandeng tangan berdua nyanyikan lagu cinta nostalgia
denganmu menggapai khayalan,
denganmu

denganmu mengisi lamunan
denganmu menggapai khayalan
denganmu oh bahagia

lihat kita bertaburan bunga-bunga
kupu-kupu saling menyapa mengejar cinta
terbang bersama ke sana
menari di atas sana
melantunkan lagu cinta
menari-nari asmara


Friday, 1 April 2011

Berawal dari Secangkir Kopi Hitam

Di siang hari yang sendu, matahari seolah berlindung di balik tebalnya awan hitam. Ditemani alunan lagu yang membuat hati terasa tentram dan damai seolah membuatku lupa akan rumitnya statistika. Angka. Hitung. Rumus. Hipotesa. Aahh... Secangkir kopi hitam mungkin bisa meningkatkan semangat dalam diri.. Slurp.. satu "seruput"
Mengingatkan akan kenangan indah. kopi hitam.
Termenung sejenak dari jenuhnya angka dan rumus, kugeser benda hitam dan mungil berbentuk seperti tikus. ke kanan, kiri, click.
Kulihat sebuah nama yang tak asing..
Tatapan halusnya
Senyuman indahnya
Memberi insipirasi
Memberi semangat
Antara nyata dan tidak nyata
Kemudian kulihat sebuah tulisan
"Kekuatan dalam menghadapi kehidupan dibangkitkan dari semangat yang terus membara dalam dirinya"
Dalam diri aku bergumam. Hebat!
Tuhan memang memberikan segala sesuatu indah pada waktunya
Asal kita berusaha, berdoa, dan berpasrah kepada-Nya
Tuhan menguatkan aku lewat berbagai macam cara, dan inilah salah satunya

Kata demi kata kubaca, setiap kisah yang tertulis kupahami, dan aku semakin merasakan bahwa Tuhan memang selalu adil.
Bola mata bergerak sesuai alur tulisan, terbaca kalimat yang refleks membuat bibir ini tersenyum mungil
“Biarin saja jadi pejabat, supaya bisa menunjukkan bahwa ada pejabat yang bersih juga.”

Pelajaran hidup lainnya yang bisa ku petik
Manusia terkadang takut dengan apa yang ada di depannya. Terlalu memikirkan ketakutan itu, sampai akhirnya dibutakan. Tak berani menjadi diri sendiri karena takut. Tak berani mengambil keputusan karena takut. Menjadi ragu akan kemampuannya. self efficacy yang rendah.
Kita seolah terkurung dalam sebuah kotak besar, sehingga tak bisa melihat keindahan yang sebenarnya berada di luar kotak itu. Sesuatu yang sesungguhnya jauh lebih indah dari yang kita bayangkan.

Dan sekali lagi, kata-kata itu, memberikan energi lebih pada diriku

Kulihat lagi lanjutan "kisah" singkat itu
"Percakapan itu kini menjadi pemicu semangat diri untuk terus menegakkan kejujuran dan kebenaran berdasar hati nurani di negeri ini. Sebuah semangat yang terasa menyejukkan seperti hujan di atas kemarau panjang."

Ya. benar. Sangat menyejukkan hidupku

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 1
Sang angka pun sudah menanti
Kopi hitam pun sudah habis
Kurasa inilah saatnya aku untuk pergi
Bertemu dengan sang angka
dan merangkai kisah baru










Wednesday, 30 March 2011

Public Relations dan Hubungannya dengan Jejaring Sosial Berbasis Internet

Teknologi berkembang dengan sangat pesat. Contoh yang paling signifikan adalah perkembangan pengguna jejaring sosial, seperti facebook, twitter. Selain itu teknologi sangat mudah menjadi tenar, namun juga mudah untuk hilang begitu saja. Terkadang, jaringan yang diprediksi tidak akan menjadi besar dan terkenal justru menjadi terkenal. Contohnya adalah facebook. Tren berkembang dengan lambat dan terkadang tak mengenal waktu, namun begitu dia tetap terus berubah. Begitu pula dengan Public Relations. Saat ini terus semakin berkembang semakin pesat dibandingkan dengan sebelumnya.

Public Relations melibatkan media dalam pekerjaannya. Media itu sendiri pun tidak hanya sebatas Koran ataupun televisi semata, tapi jejaring sosial termasuk di dalamnya.

Media terus berubah

Setiap orang memiliki pemilihan media yang berbeda-beda untuk mendapatkan informasi. Banyak dari kita yang menghabiskan waktu tidak hanya di news media, namun juga di jejaring sosial. Jejaring tersebut bekerja seperti sungai, semua informasi dibawa. Sungai tersebut menjadi jalan utama kita dalam menerima informasi. Seperti di Amerika, facebook menjadi site utama bagi mereka untuk mendapatkan informasi. Mereka menggunakan facebook 7 jam per hari, dan 2 jam menggunakan yahoo. Jadi waktu dan keinginan terhadap beberapa site menjadi semakin sempit. Ini menjadi tantangan bagi PR, kita harus yakin bahwa kita merupakan bagian dari sungai tersebut sehingga kita dapat memahami keinginan orang-orang dan bisa menyampaikan informasi.

Tantangan: the fire hose

Informasi terus berkembang dan meluas. Kita pun saat ini sudah dapat mengakses berita melalui mobile gadgets, seperti telepon genggam. Kita mulai menggunakan telepon genggam untuk mencari tahu tentang berita atau informasi. Setiap individu harus membuat pilihan dan PR mencoba untuk mengetahui apa maksud dari individu-individu tersebut. Public relations saat ini semakin penuh tantangan karena pertumbuhan dari jaringan yang semakin banyak macamnya.

Bagaimana cara seorang PR membuat terobosan baru untuk berhubungan dengan publiknya? PR harus berada dimana publiknya berada. Setiap individu perlu mendengarkan terus menerus sebelum mereka kemudian melakukannya. Paling tidak 3 atau 4 kali. Sosial media adalah media, sehingga PR memerlukannya untuk bisa berhubungan dengan publiknya.

  1. Masuk ke tempat dimana publik berada. Membangun hubungan dalam jejaring sosial. Kita harus membangun hubungan komunikasi dengan mereka, berbagi informasi. Contohnya di facebook.
  2. Pahamilah mengenai keseragaman dan keberagaman. Tidak semua orang mengharapkan informasi yang sama. Orang mencari tahu untuk hal-hal yang mereka perlukan saja. Tidak semua orang memperhatikan satu berita besar pada satu media. Beritahu di media yang berbeda dengan cara yang berbeda pula sehingga publik menerima informasi kita.
  3. Gunakan kekuatan yang ada, jangan justru melawannya. Kekuatan itu adalah jaringan sosial. Perusahaan dan PR harus menggunakannya dalam pekerjaan sehingga akan lebih efektif.

Media Googlization: membangun bisnis digital agar terlihat

Google dan facebook menjadi cara utama untuk mendapatkan informasi. Saat ini koran-koran di Amerika berubah. Google adalah sumber informasi nomer satu, sehingga kita perlu tahu bagaimana cara bekerjanya. Kita harus melihat google sebagai raksasa besar.

Empat cara penggunaan google dalam kegiatan PR:

  1. Paid search: advertisement. Kita harus “memesan” kata, sehingga ketika seseorang mengetik huruf tersebut, maka yang keluar pertama adalah advertisement dari PR perusahaan kita. Dengan kata lain, kita membayar untuk itu.
  2. Owned search: agar lebih terlihat di google.
  3. Earned search: memahami bagaimana cara agar berita kita keluar di google.
  4. Social media: seperti youtube adalah kedua terbesar. Berita yang berada di atas dengan link yang paling banyak adalah berhubungan dengan masalah sosial. Agar bisa terlihat, maka kita harus menyadari hal ini.

Usaha PR sebenarnya belajar bagaimana orang berpikir untuk efek tindakan mereka. Kita dapat melakukannya dengan:

1. Tap into free tools and become data junkies. Kita bisa belajar bagaimana orang mencari. Ketika orang-orang cenderung untuk mencari. Kita bisa belajar dan ini sangat berguna.

2. Lihat kebutuhan yang tidak ada dan menggunakan data untuk merancang produk dan mengkampanyekannnya.

3. Peta jaringan untuk memahami bagaimana menggunakan secara efisien dan efektif. Pelajari aliran dari berita.

Inda

Jurusan Komunikasi

Public Relations

Program Diploma

Universitas Indonesia

2007


Sumber: Kuliah umum

Stereotype Terhadap Wanita Merokok

Pada jaman yang terus berkembang ini, budaya merokok di kalangan wanita sudah mulai terlihat biasa. Seperti prinsip-prinsip komunikasi yang ada, yaitu simbolik. Merokok seolah-olah merupakan suatu simbol yang menunjukkan bahwa diri mereka kuat, terlihat lebih gaul, dan agar diterima dalam kelompok mereka yang juga merokok. Makna dari budaya itu sendiri menurut Marsella adalah suatu perilaku yang ditularkan dari satu generasi ke generasi lain, dimana memiliki beberapa tujuan yaitu mempertahankan kelangsungan hidup individu dan sosial, adaptasi, pertumbuhan dan perkembangan. Budaya merokok ini ada sebagai bentuk adaptasi seseorang terhadap lingkungannya, agar bisa tetap diterima dalam kelompoknya, seperti fungsi budaya menurut Triadis.

Stereotype tersebut terbentuk karena pengalaman-pengalaman yang terlihat sehari-hari terhadap teman dan pengamatan secara kasat mata yang ditemui ketika pergi ke suatu tempat, seperti mall, kampus, dan tempat “nongkrong” seperti cafe. Budaya merokok terjadi karena orientasi kegiatan, yaitu being orientation dimana budaya memandang segala sesuatunya sebagai “mengalir” secara spontan. Maksudnya adalah bahwa awalnya tidak ada suatu keinginan agar merokok ini dijadikan suatu budaya yang semakin meluas, terutama di kalangan wanita. Tapi karena dengan maksud agar diterima dalam kelompoknya, merokok kemudian menjadi suatu budaya dalam masyarakat. Selain itu pemikiran ini terbentuk dari bentuk pengajaran dalam keluarga yang mengatakan bahwa wanita tidak sebaiknya merokok. Wanita yang merokok tersebut bisa saja juga menggunakan narkoba dan suka meminum-minuman keras, mereka wanita “nakal”. Dengan sudah “masuk” nya mereka ke dalam budaya merokok, maka peluang terjerumus ke dalam narkoba dan free sex menjadi lebih mudah. Budaya yang diturunkan dari orang tua itulah yang akhirnya membuat pemikiran terhadap wanita yang merokok itu tidak baik.

Terdapat beberapa contoh tindakan atau pendapat yang bersifat stereotyping terhadap kelompok wanita perokok aktif ini. Yaitu dilihat dari pakaian yang digunakan, mereka sering menggunakan pakaian yang terlihat seksi dan menggoda, terlihat dari komunikasi non verbal clothing and physical appearance yang dilakukan secara kasat mata, ekspresi muka yang cenderung terlihat seperti menantang, cara bicara mereka yang bebas, lepas dan kadang mengeluarkan kata-kata yang tidak baik. Mereka terlihat nakal, seolah-olah merasa gaul dengan merokok, dan suka minum minuman keras. Pendapat lainnya adalah mereka merokok karena teman-teman yang lainnya juga merokok dan mereka merasa ingin tau apa rasa rokok itu, kemudian mencobanya dan akhirnya menjadi suatu ketergantungan dan budaya tersendiri bagi mereka. Walaupun terdapat beberapa yang tidak mejadikan merokok tersebut sebagai budaya dalam dirinya, tapi tak sedikit wanita yang pernah mencoba untuk merokok karena rasa ingin tahu yang besar terhadap rokok. Dari sini dapat dilihat bahwa budaya merokok dapat dikatakan sudah menjadi dominant culture, yaitu memiliki “kekuatan” untuk mempengaruhi perilaku mayoritas dari masyarakat. Dimana co-culture nya adalah mencoba merokok lalu tidak dilanjutkan, tidak ingin mencoba rokok tapi ingin tahu tentang rokok, dan pernah mencoba merokok tapi tidak dilanjutkan atau tidak ketergantungan.

Dengan berjalannya waktu dan pengetahuan serta pergaulan yang semakin berkembang dan mendalam, kemudian secara perlahan stereotype terhadap wanita merokok tersebut berubah, dan tidak sesuai dengan yang pada awalnya terpikirkan. Walaupun ada beberapa hal yang sesuai dengan stereotype tersebut, tapi tidak semuanya benar. Semuanya tergatung pribadi masing-masing individu, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang unik. Tidak ada manusia yang sama persis. Setiap individual diberikan kemampuan untuk berpikir dan memutuskan sendiri, bukan sebagai boneka atau robot yang bertindak sesuai budayanya. Melalui proses wawancara yang tidak disengaja terhadap beberapa teman dekat dan melalui komunikasi non verbal yaitu proxemics: personal space (jarak pribadi) dan kinesics (gestures, ekspresi wajah, dan kontak mata) yang lebih mendalam sebagai bentuk keingintahuan terhadap alasan mengapa mereka merokok, dan pengamatan terhadap perilaku dan sikap mereka, akhirnya diketahui bahwa tidak semua wanita yang merokok menggunakan pakaian yang seksi dan menggoda. Ada banyak wanita yang berpakaian biasa-biasa saja, bahkan terlihat sebagai seseorang yang “alim” yang ternyata juga merokok. Selain itu mereka merokok bukan karena alasan ingin dikatakan sebagai wanita yang gaul ataupun mandiri, namun karena berawal dari coba-coba dan rasa penasaran, akhirnya mereka merasa ketergantungan dan tidak dapat berhenti. Apalagi zat adiktif yang ada dalam rokok membuat mereka merasa nyaman, terlebih ketika sedang ada masalah, mereka merasa rokok bisa menenangkan pikiran mereka. Tak jarang juga seseorang merokok karena lokasi,seperti di tempat (ketika di lounge, cafe) waktu (saat berkumpul dengan teman-teman), orang sekitar, dan kegiatan apa yang sedang berlangsung. Ini sesuai dengan prinsip komunikasi.yaitu sistemik. Stereotype merokok karena ikut-ikutan adalah benar.

Stereotype memang pasti dialami oleh setiap orang, dan terkadang menjadi hambatan dalam berkomunikasi, entah menjadi canggung untuk berbicara atau merasa aneh. Tapi bukan berarti hambatan tersebut justru membuat kita tidak dapat berkembang. Kita harus bersikap skeptis dan mencari tahu apakah stereotype yang terdapat dalam benak kita benar seperti itu atau tidak. Salah satu caranya untuk mencari tahu adalah dengan bergaul dan melakukan pembicaraan yang mendalam dengan mereka, tanpa harus terpengaruh dengan budaya merokok tersebut. Harus ditanamkan dalam pemikiran kita bahwa tidak semua yang ada dalam stereotype tersebut benar. Kita harus mencari informasi, stimulus lainnya agar stereotype tersebut dapat hilang perlahan-lahan dalam benak kita. Dengan cara itu kita bisa menghargai mereka dengan budaya mereka, mereka tetap bisa merasa nyaman dengan diri mereka apa adanya, begitu pula kita. Seperti dalam “point of contact” domestik, dalam setiap budaya terdapat budaya lain yang lebih spesifik (co-cultures atau spezialized cultures). Interaksi antara beberapa orang yang berbeda co-cultures adalah komunikasi antar budaya, dan kita harus menghargainya agar tercipta kehidupan yang selaras dan harmonis.

Sumber:

Zubair, Agustina. 2006. Definisi Komunikasi, (online),

(http://meiliemma.wordpress.com/2006/10/17/definisi-komunikasi/, diakses 21 Oktober 2009)

-Inda-
Jurusan Komunikasi
Public Relations
Program Diploma
Universitas Indonesia
2007
Universitas Indonesia